OTOMOTIF: Mesin Murah untuk Rakyat

Rabu, 30 September 2009 | 03:52 WIB
YUNI IKAWATI

kompas_white

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/30/03523277/mesin.murah.untuk.rakyat

Mesin adalah bagian utama pada kendaraan bermotor dan alat produksi. Namun, sebegitu jauh Indonesia belum berhasil membuat prototipe yang diproduksi massal. Itulah yang mendorong pencanangan program pembuatan model mesin serba guna.

Bukan sekadar program, tetapi juga menggandeng dunia industri untuk memproduksi.

Kemampuan menguasai dan mengembangkan teknologi otomotif telah lama ditampilkan Indonesia, antara lain tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada tahun 1985 telah berhasil membuat mobil tenaga surya yang disebut Widya Wahana I.

Peluncuran prototipe pertama mobil bertenaga matahari pertama di Indonesia itu dilaksanakan di Monas, Jakarta, November 1989. Setelah itu dengan dukungan fasilitas dari Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)—sekarang PT Dirgantara Indonesia,—PAL Indonesia, dan PT LEN Industri, mobil surya itu dikembangkan hingga generasi ketiga, tahun 2000. Mobil ramah lingkungan ini tidak ke skala industri.

Setya W Abednego memperkenalkan Kancil (kendaraan angkutan niaga cilik, irit, dan lincah). Kancil dirancang menyaingi Bajaj buatan India dan diharapkan menjadi ciri khas kendaraan angkutan Indonesia, seperti halnya tuktuk di Thailand, caktor di Malaysia, dan jeepney di Filipina.

Kancil mampu berjalan Jakarta-Solo dengan kecepatan 60 kilometer-70 kilometer per jam. Kendaraan ini dinyatakan layak dan dapat diproduksi massal. Produksi ditangani PT INKA.

Dalam jumlah terbatas, mobil ini sudah berseliweran di Jakarta. Namun, juga gagal menggusur Bajaj karena terbentur kepentingan bisnis importir.

Pada tahun 2001 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggulirkan prototipe mobil nasional Marlip (Marmut Listrik LIPI) oleh Totok MS Soegandi dan Masrah dari Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik (Telimek) LIPI. Pembuatan Marlip untuk mengatasi polusi udara. Mesin tenaga listrik dipatenkan atas nama Masrah, penemunya.

Tiga prototipe Marlip dioperasikan di Kebun Raya Bogor. Prototipe mobil listrik yang memiliki kandungan lokal 70 persen itu terus disempurnakan. Kapasitas mesin bervariasi, 3 daya kuda (HP) hingga 25 HP. Marlip telah diuji menempuh jarak panjang Jakarta-Bali. Prototipe ini pun tidak sampai ke skala industri. Pengembangan ke tahap industri ada di tangan Menteri Perindustrian.

Mesin Rusnas

Kini Suparto Soejatmo (73) merancang mesin kecil 500 cc berbahan bakar bensin. Rancangan dilakukan tahun 2002 dengan dana program Riset Unggulan Strategis Nasional dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Program ini melibatkan peneliti dan perekayasa yang diketuai I Nyoman Jujur di Pusat Teknologi Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Suparto tahun 1960-an terlibat perancangan mesin bemo, mesin mobil balap di Jepang dan Eropa, juga mesin mobil Timor yang batal diterapkan.

Tahun 2007 pembuatan mesin serba guna ini mencapai tahap akhir. Tahun ini telah melewati tahap uji coba dan akan masuk ke tahap studi produksi.

Pembuatan prototipe mesin melibatkan industri logam di Tegal, PT NEFA Global Industries, dengan supervisi dari BPPT. Bahan baku mesin paduan aluminium yang relatif ringan.

Tahun 2008 PT NEFA Global Industries mampu membuat lima mesin Rusnas dengan kualitas sama dengan prototipenya.

Uji kinerja prototipe mesin ini dilakukan di Balai Termodinamika Motor dan Propulsi di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Banten.

Di lapangan, mesin ini tidak hanya digunakan untuk mengangkut hasil bumi, tetapi juga bisa sebagai mesin proses, misalnya untuk menggiling jagung atau pengupas kopi. Prototipe mesin ini dapat diaplikasikan di kapal nelayan, mobil mini perkotaan, dan motor penggerak alat pertanian.

”Mobil mini dengan nama GEA-Rusnas sudah diuji coba. Hasilnya baik, dilakukan tes di Sentul, Jawa Barat, dengan kecepatan 90 kilometer per jam,” urai Suparto, Presiden Direktur Indo Techno Mandiri.

Sistem injeksi

Selain prototipe mesin yang menggunakan sistem karburator, juga dikembangkan sistem injeksi bahan bahan bakar secara elektronis (electronic fuel injection/EFI) yang relatif baru digunakan di bidang otomotif.

Sistem ini dibangun dengan memanfaatkan potensi lokal melalui pembuatan electronic control unit. Saat injeksi dan pembakaran mulai dikomputasikan agar mesin yang optimal.

Pengembangan lain, mesin dimodifikasi agar bisa digerakkan dengan dua bahan bakar—premium dan bahan bakar gas dari jenis compression natural gas (CNG)—yang lebih murah dan aman dibandingkan dengan liquefied petroleum gas (LPG).

Mesin Rusnas ini akan ditingkatkan kandungan lokalnya hingga 98 persen dan harga jual tidak lebih dari Rp 8 juta.

Saat ini beberapa pemerintah daerah di Jawa Timur akan memakainya untuk penggerak alat pengangkut sampah serta di Sulawesi Selatan untuk angkutan perairan. Jika dipasangkan pada kendaraan bermotor, mobil mini itu dijual sekitar Rp 40 juta.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: